Monexnews -
Mayoritas bursa saham Asia melemah di perdagangan hari Selasa (21.10) akibat kalangan investor kecewa dengan data penting dari China yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi China melambat di kuartal ke-3 sekaligus terlemahnya sejak krisis keuangan global tahun 2008/09.
Angka GDP China tumbuh 7.3% untuk year on year di kuartal III, merupakan laju paling lambat hampir dalam 6 tahun. Angka itu tercatat di atas ekspektasi sebesar 7.2%, namun menurun dari periode sebelumnya pada level 7.5%.
Hasil rilis data GDP tersebut langsung memicu kekhawatiran terhadap menyusutnya pertumbuhan global dan ikut menyulut 'risk aversion' atau sentimen hindar risiko.
Indeks utama Nikkei (N225) berakhir merosot tajam terutama akibat 'profit-taking' setelah pada sesi Senin lalu rebound hingga 4% sekaligus mencatat rally harian terbesar dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Penguatan yen terhadap greenback juga turut membebani sentimen dan memukul eksportir sekaligus memicu aksi jual. Di penghujung sesi, Indeks Nikkei berakhir dengan anjlok 2.03%.
Sementara bursa KOSPI-Korsel juga turut terkoreksi setelah rally hingga 1.5% di hari Senin dan mencatat gain harian terbesarnya dalam 11 bulan. Di lantai bursa nampak saham-saham sektor teknologi berjatuhan karena dipicu oleh saham LG Electronics & Samsung Electronics yang masing-masing tergerus 2%. Sedangkan indeks utama KOSPI ditutup merosot 0.77%.
Namun demikian, bursa saham Hong Kong berakhir dengan kenaikkan tipis sebesar 0,08% di tengah pelemahan mata uang domestik serta munculnya kekhawatiran pasar terkait apakah pembicaraan mendatang antara pemerintah dan para demonstran pro-demokrasi akan mengakhiri kebuntuan saat ini.
(dar)
This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.